Minggu, 09 Agustus 2015

Sinergi Mesra Islam Nusantara-Islam Berkemajuan




Bisa dibilang, tahun ini merupakan tahun yang memiliki keistimewaan tersendiri. Tahun yang bisa dijadikan sebagai “pendongkrak” kemajuan peradaban Islam di Indonesia. Pada tahun ini, kekompakan dua ormas besar Islam di Indonesia (NU dan Muhammadiyah) kian terasa. Mulai dari penyeragaman awal puasa dan hari lebaran sampai dengan serba-serbi muktamarnya yang diadakan pada bulan yang sama, bulan Agustus 2015. Perkembangan ini sangat positif dan perlu dijaga, mengingat kedua ormas ini pada era 90-an ke belakang terasa kurang bertegur sapa. Hal ini menandakan bahwa sekarang masyarakat muslim Indonesia sudah mampu bersikap dewasa menghadapi suatu perbedaan.
Dua ormas ini, sejak didirikan sampai sekarang, telah banyak memberikan kontribusi bagi kemajuan NKRI. Tahun ini, keduanya mencari-cari, memilah, mengembangkan ide-ide segar guna kemajuan bersama, sehingga lahirlah gagasan “Islam Nusantara” dari pemikir NU dan “Islam Berkemajuan” dari pemikir Muhammadiyah.
NU dalam muktamarnya yang ke-33 di Jombang dari 1-5 Agustus 2015 mengangkat tema “Meneguhkan Islam Nusantara untuk Peradaban Indonesia dan Dunia”. Adapun tema muktamar Muhammadiyah yang ke-47 yang diselenggarakan di Makassar sejak tanggal 3-7 Agustus 2015 adalah “Gerakan Pencerahan Menuju Indonesia Berkemajuan”.


Memahami lebih dekat Islam Nusantara dan Islam Berkemajuan
Islam Nusantara, seperti yang dijelaskan oleh Said Aqil Siraj, ketua PBNU, bukanlah mazhab atau aliran baru dalam Islam. Islam Nusantara sejatinya adalah penyederhanaan dari tipologi Islam Indonesia hasil perpaduan antara Islam dengan tradisi dan kebudayaan Nusantara. Nada serupa juga disampaikan Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin, saat pembukaan Muktamar NU ke-33 bahwa Islam Nusantara adalah ciri Islam yang memadukan tradisi, adat, dan budaya lokal dengan Islam. Para pengusung Islam Nusantara tidak pernah mengatakan menolak jilbab atau ingin menghapus kalimat salam “assalamu alaikum” seperti yang dituduhkan sebagian orang. Begitulah tradisi buruk kita, sukanya menuduh dan menyalahkan orang lain, tapi tidak mau berkarya seperti orang yang dituduh. Padahal intinya berilmu adalah untuk memperbaiki diri sendiri, bukan untuk melecehkan orang lain.
Adapun jargon Islam Berkemajuan muncul akibat perasaan “galau” melihat kondisi umat Islam Indonesia yang walaupun mayoritas dalam kuantitas, namun minoritas dalam kualitas. “Dengan Islam Berkemajuanlah kita bisa membangkitkan umat Islam untuk menjadi umat yang berkemajuan menjadi khairo ummah, umat terbaik,” kata Din Syamsuddin saat pembukaan Mukatamr Muahammadiyah ke-47. Adanya jargon Islam Berkemajuan ini bukan berarti memberi kesan bahwa ada Islam lain yang tidak berkemajuan atau islam gagal. Janganlah melihat permasalahan dari perspektif sempit seperti itu, jangan cuma melihat dengan kacamata hitam-putih. Namun lihatlah substansi dalam Islam Berkemajuan itu sendiri.
Mensinergikan Islam Nusantara-Islam Berkemajuan
Islam Nusantara dengan keramahan dan kecintaan terhadap budaya nusantaranya dan Islam Berkemajuan dengan pandangan ke depannya merupakan energi yang sangat besar untuk menyongsong peradaban dunia Islam yang lebih baik. Islam Nusantara yang menampilkan Islam yang ramah sangat diperlukan di tengah merebaknya radikalisme dan kekerasan atas nama agama. Islam Berkemajuan dengan visinya juga sangat penting untuk memperbaiki kebobobrokan dan ketertinggalan umat Islam. NU-Muhammadiyah, saling melengkapi dan sangat mesra.

Jumat, 07 Agustus 2015

Ber-Islam Ber-Nusantara


Wacana Islam Nusantara yang berkembang di bumi pertiwi mendapatkan berbagai respon, dari yang pro sampai yang kontra. Tak hanya menjadi bahan pembicaraan (diskusi atau perdebatan) di antara para pemikir muslim Indonesia, namun juga telah menarik banyak perhatian dari kalangan mancanegara sehingga tak ayal PBB pun mengadakan diskusi khusus menyoroti wacana berislam ala nusantara ini.
Wacana Islam Nusantara pada awalnya muncul sebagai respon atas maraknya gerakan transnasional semisal wahabi yang cenderung sangat memusuhi budaya lokal dan gerakan lain yang memandang sinis terhadap rasa nasionalisme. Padahal dalam sejarah penyebaran Islam di Indonesia, para muballigh sangat sering menjadikan budaya sebagai metode dalam berdakwah. Lihat dakwah Sunan Kalijaga dengan wayangnya. Islam Nusantara yang diperjuangkan oleh sekian pemikir saat ini adalah untuk mengingatkan kembali bahwa Islam tidak memusuhi atau ingin memberangus budaya lokal, namun justru berusaha melandasi budaya lokal dengan spirit Islam. Karena budaya adalah hasil kreasi sekaligus warisan nenek moyang kita, selain juga anugerah dari Allah. “Islam Nusantara sejatinya adalah ciri Islam yang memadukan tradisi, adat, dan budaya lokal dengan Islam”, kata Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin saat pembukaan Muktamar NU ke-33 di Jombang beberapa hari lalu.
Semangat Islam Nusantara juga dilatarbelakangi oleh rasa gelisah melihat beberapa negara Islam yang justru tidak mencerminkan ajaran Islam nan damai, seperti konflik di Yaman atau di Mesir beberapa tahun lalu. Kegelisahan ini kemudian mengkristal dan melahirkan wacana Islam Nusantara yang diharapkan akan menjadi role model cara berislam yang santun bagi negara Islam yang lain.
Islam Nusantara bukanlah mazhab baru
Islam Nusantara bukanlah ideologi baru
Islam Nusantara bukanlah transformasi Islam Liberal
Islam Nusantara hanyalah perpaduan antara nilai Islam teologis dengan budaya Nusantara.