Wacana
Islam Nusantara yang berkembang di bumi pertiwi mendapatkan berbagai respon,
dari yang pro sampai yang kontra. Tak hanya menjadi bahan pembicaraan (diskusi
atau perdebatan) di antara para pemikir muslim Indonesia, namun juga telah
menarik banyak perhatian dari kalangan mancanegara sehingga tak ayal PBB pun
mengadakan diskusi khusus menyoroti wacana berislam ala nusantara ini.
Wacana
Islam Nusantara pada awalnya muncul sebagai respon atas maraknya gerakan
transnasional semisal wahabi yang cenderung sangat memusuhi budaya lokal dan
gerakan lain yang memandang sinis terhadap rasa nasionalisme. Padahal dalam
sejarah penyebaran Islam di Indonesia, para muballigh sangat sering menjadikan
budaya sebagai metode dalam berdakwah. Lihat dakwah Sunan Kalijaga dengan
wayangnya. Islam Nusantara yang diperjuangkan oleh sekian pemikir saat ini
adalah untuk mengingatkan kembali bahwa Islam tidak memusuhi atau ingin
memberangus budaya lokal, namun justru berusaha melandasi budaya lokal dengan
spirit Islam. Karena budaya adalah hasil kreasi sekaligus warisan nenek moyang
kita, selain juga anugerah dari Allah. “Islam Nusantara sejatinya adalah ciri
Islam yang memadukan tradisi, adat, dan budaya lokal dengan Islam”, kata
Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin saat pembukaan Muktamar NU ke-33 di
Jombang beberapa hari lalu.
Semangat
Islam Nusantara juga dilatarbelakangi oleh rasa gelisah melihat beberapa negara
Islam yang justru tidak mencerminkan ajaran Islam nan damai, seperti konflik di
Yaman atau di Mesir beberapa tahun lalu. Kegelisahan ini kemudian mengkristal
dan melahirkan wacana Islam Nusantara yang diharapkan akan menjadi role model
cara berislam yang santun bagi negara Islam yang lain.
Islam
Nusantara bukanlah mazhab baru
Islam
Nusantara bukanlah ideologi baru
Islam
Nusantara bukanlah transformasi Islam Liberal
Islam
Nusantara hanyalah perpaduan antara nilai Islam teologis dengan budaya
Nusantara.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar