Bisa dibilang, tahun ini merupakan tahun yang memiliki keistimewaan
tersendiri. Tahun yang bisa dijadikan sebagai “pendongkrak” kemajuan peradaban
Islam di Indonesia. Pada tahun ini, kekompakan dua ormas besar Islam di
Indonesia (NU dan Muhammadiyah) kian terasa. Mulai dari penyeragaman awal puasa
dan hari lebaran sampai dengan serba-serbi muktamarnya yang diadakan pada bulan
yang sama, bulan Agustus 2015. Perkembangan ini sangat positif dan perlu dijaga,
mengingat kedua ormas ini pada era 90-an ke belakang terasa kurang bertegur
sapa. Hal ini menandakan bahwa sekarang masyarakat muslim Indonesia sudah mampu
bersikap dewasa menghadapi suatu perbedaan.
Dua ormas ini, sejak didirikan sampai sekarang, telah banyak
memberikan kontribusi bagi kemajuan NKRI. Tahun ini, keduanya mencari-cari,
memilah, mengembangkan ide-ide segar guna kemajuan bersama, sehingga lahirlah
gagasan “Islam Nusantara” dari pemikir NU dan “Islam Berkemajuan” dari pemikir
Muhammadiyah.
NU dalam muktamarnya yang ke-33 di Jombang dari 1-5 Agustus 2015
mengangkat tema “Meneguhkan Islam Nusantara untuk Peradaban Indonesia dan
Dunia”. Adapun tema muktamar Muhammadiyah yang ke-47 yang diselenggarakan di
Makassar sejak tanggal 3-7 Agustus 2015 adalah “Gerakan Pencerahan Menuju
Indonesia Berkemajuan”.
Memahami lebih dekat Islam Nusantara dan Islam Berkemajuan
Islam Nusantara, seperti yang dijelaskan oleh Said Aqil Siraj,
ketua PBNU, bukanlah mazhab atau aliran baru dalam Islam. Islam Nusantara
sejatinya adalah penyederhanaan dari tipologi Islam Indonesia hasil perpaduan
antara Islam dengan tradisi dan kebudayaan Nusantara. Nada serupa juga
disampaikan Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin, saat pembukaan Muktamar NU
ke-33 bahwa Islam Nusantara adalah ciri Islam yang memadukan tradisi, adat, dan
budaya lokal dengan Islam. Para pengusung Islam Nusantara tidak pernah
mengatakan menolak jilbab atau ingin menghapus kalimat salam “assalamu alaikum”
seperti yang dituduhkan sebagian orang. Begitulah tradisi buruk kita, sukanya
menuduh dan menyalahkan orang lain, tapi tidak mau berkarya seperti orang yang
dituduh. Padahal intinya berilmu adalah untuk memperbaiki diri sendiri, bukan
untuk melecehkan orang lain.
Adapun jargon Islam Berkemajuan muncul akibat perasaan “galau”
melihat kondisi umat Islam Indonesia yang walaupun mayoritas dalam kuantitas,
namun minoritas dalam kualitas. “Dengan Islam Berkemajuanlah kita bisa
membangkitkan umat Islam untuk menjadi umat yang berkemajuan menjadi khairo
ummah, umat terbaik,” kata Din Syamsuddin saat pembukaan Mukatamr Muahammadiyah
ke-47. Adanya jargon Islam Berkemajuan ini bukan berarti memberi kesan bahwa
ada Islam lain yang tidak berkemajuan atau islam gagal. Janganlah melihat
permasalahan dari perspektif sempit seperti itu, jangan cuma melihat dengan
kacamata hitam-putih. Namun lihatlah substansi dalam Islam Berkemajuan itu
sendiri.
Mensinergikan Islam Nusantara-Islam Berkemajuan
Islam Nusantara dengan keramahan dan kecintaan terhadap budaya
nusantaranya dan Islam Berkemajuan dengan pandangan ke depannya merupakan
energi yang sangat besar untuk menyongsong peradaban dunia Islam yang lebih
baik. Islam Nusantara yang menampilkan Islam yang ramah sangat diperlukan di
tengah merebaknya radikalisme dan kekerasan atas nama agama. Islam Berkemajuan
dengan visinya juga sangat penting untuk memperbaiki kebobobrokan dan
ketertinggalan umat Islam. NU-Muhammadiyah, saling melengkapi dan sangat mesra.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar