Selasa, 20 Februari 2024

Integrasi ‘Ulum al-Qur’an dengan Studi Qur’an Barat, Mungkinkah?

Catatan pengantar diskusi “Belajar Studi Islam di Barat, Kenapa Tidak?”



Dalam pengantar singkat ini, saya ingin langsung berargumen bahwa integrasi ‘ulum al-Qur’an klasik dengan kesarjanaan studi Qur’an di akademia Barat itu tidak hanya mungkin, tetapi juga mampu memperkaya pandangan kita secara lebih produktif.
Salah satu tema penting dalam ‘ulum al-Qur’an adalah pembahasan Makiyyah-Madaniyyah. Al-Suyuti bahkan menempatkan pembahasan ini di bab pertama kitab al-Itqān fī ‘Ulūm al-Qur’ān, menunjukkan betapa pentingnya ilmu ini bagi pelajar tafsir sebelum ia mendalami topik-topik lain.
Al-Suyuti menyebutkan bahwa pendapat paling masyhur adalah Makiyyah didefinisikan sebagai ayat-ayat yang turun sebelum Nabi hijrah ke Madinah, sedangkan Madaniyyah adalah ayat-ayat yang turun pasca hijrah. Kategorisasi ini dianggap mampu membantu para mufassir untuk mengetahui ayat yang turun belakangan dan dengan demikian berfungsi untuk mentakhsis atau menasakh ayat yang turun lebih awal.
Para cendekiawan Muslim terdahulu juga sudah meyakini bahwa dalam sebagian surah Makiyyah terdapat beberapa ayat Madaniyyah, dan begitu pula sebaliknya.
و الآيات المدنيّات في السور المكيّة , و الآيات المكيّات في السور المدنيّة

Klasifikasi Makiyyah-Madaniyyah, sebagaimana diakui ulama Muslim, bukan berasal dari Nabi, tapi dari para Sahabat yang mengamati fenomena pewahyuan al-Qur’an. Sahabat yang paling sering dirujuk sebagai otoritas dalam keilmuan tafsir adalah Ibn ‘Abbas. Al-Nahhas dalam kitabnya al-Nasikh wa al-Mansukh sebagaimana dikutip al-Suyuti, menyuguhkan riwayat yang diatributkan kepada Ibn ‘Abbas seputar pembagian Makiyyah-Madaniyyah ini.
Dalam riwayat tersebut, Ibn ‘Abbas dikisahkan memberitahu muridnya, Mujahid, tidak hanya tentang surah surah yang masuk kategori Makiyyah dan Madaniyyah, tetapi juga ayat-ayat Madaniyyah yang terdapat dalam surah-surah Makiyyah. Salah satunya adalah surah al-Muzzammil. Surah ke-73 ini masuk kategori surah Makiyyah, tetapi ayat terakhirnya diyakini turun di periode Madinah (baca al-Itqan, hal. 33).
Namun, baik al-Suyuti maupun al-Nahhas, tidak memberikan penjelasan lebih jauh mengapa ayat terakhir surah al-Muzzammil ini diyakini turun dalam periode Madinah. Yang dilakukan oleh kedua penulis ‘ulum al-Qur’an tersebut adalah menghadirkan riwayat yang mendukung pendapat tersebut. Dalam konteks inilah, saya rasa, kita bisa menambah referensi bacaan dari hasil riset beberapa sarjana Barat.
Gustav Weil, diikuti oleh Theodor Nöldeke, telah menawarkan pembagian al-Qur’an tidak hanya ke dalam kategori Makiyyah dan Madaniyyah, tetapi ke dalam sub-kategori yang lebih kecil: periode Mekah Awal, Mekah Tengah, Mekah Akhir, dan periode Madinah. Namun, pendekatan ini mendapat kritikan dari sebagian sarjana Barat lainnya, seperti Gabriel S. Reynold, dosen dan kolega Prof. Mun’im di Notre Dame. Menurut Reynold, pendekatan Weil dan Nöldeke terlalu bersandar pada sumber-sumber tradisional (irredeemably reliant on Islamic reports about the biography (sīra) of Muḥammad).
Merespon perdebatan di kalangan sarjana Barat di atas, Nicolai Sinai, dosen Studi Qur’an di Oxford University, berargumen bahwa peneliti bisa mengetahui perbedaan ayat-ayat yang turun lebih awal (periode Mekah dalam kosakata Muslim) dari ayat-ayat yang turun belakangan (periode Madinah) dengan mengkaji bukti-bukti internal al-Qur’an sendiri, seperti stilistika, rima, struktur literer, terminologi, dan konten al-Qur’an, tanpa harus bersandar pada bukti eksternal seperti sumber-sumber Muslim. Argumen lengkap murid Angelika Neuwirth ini bisa dibaca di “The Unknown Known: Some Groundwork for Interpreting the Medinan Qur’an.”
Kembali ke ayat terakhir surah al-Muzzammil tadi, Sinai juga berpendapat bahwa ayat ini mesti muncul di periode Madinah. Dalam artikelnya yang lain, “Two Types of Inner-Qur’anic Interpretation,” ia menyuguhkan tiga argumen yang saya ringkas sebagai berikut:
1. Literary Growth
Sinai percaya bahwa al-Qur’an mengalami ‘perkembangan literer’, bahwa ayat-ayat yang muncul belakangan cenderung lebih berkembang dan panjang (verse leghth) daripada ayat yang turun lebih awal. Panjang ayat terakhir surah al-Muzzammil terlalu mencolok dengan panjang lebih dari 50% jika kita bandingkan dengan keseluruhan ayat 1-19 dalam surah yang sama.
2. Tema
Ayat terakhir surah al-Muzzammil memuat frase “yuqatiluna fi sabilillah” (berperang di jalan Allah), sebuah frase yang tidak ditemukan dalam surah-surah Makiyyah yang lebih sering berorientasi eskatalogis. Tema “berperang di jalan Allah” menjadi cukup dominan dalam ayat-ayat Madaniyyah, lanjut Sinai, sebagaimana juga diakui para penulis Muslim.
3. Fungsi Eksegesis
Ayat terakhir ini juga memainkan peran interpretatif terhadap ayat-ayat al-Muzzammil sebelumnya. Ayat 2-4, misalnya, membawa ajaran agama yang ‘ketat’: “sholatlah di sebagian besar waktu malam” (ayat 2), “atau setidaknya setengah malam atau kurang sedikit” (ayat 3), serta ditambah dengan “tilawah al-Qur’an” (ayat 4). Ajaran nan ketat ini dimungkinkan, lanjut Sinai, turun di periode Mekah karena jumlah pengikut Nabi saat itu masih sedikit sehingga ibadah malam tidak dipandang memberatkan.
Namun, ayat terakhir merefleksikan bahwa pengikut Nabi di Madinah sudah semakin banyak, di antaranya ada orang-orang “yang sakit, yang berjalan di muka bumi mencari karunia Allah, dan yang berperang di jalan Allah.” Karena itu, alih-alih membawa ajaran yang cukup berat, ayat terakhir ini menginstruksikan untuk membaca apa saja yang mudah dari al-Qur’an (faqra'u ma tayassara minhu).
Ayat terakhir ini, tegas Sinai, turun di Madinah namun ditempatkan di dalam surah al-Muzzammil yang Makiyyah dalam rangka untuk memberi penjelasan tambahan/tafsiran terhadap ayat-ayat yang turun lebih awal dalam surah ini.
Dari contoh di atas, kita bisa lihat jika para penulis ‘ulum al-Qur’an, seperti al-Suyuti, memberi tahu kita riwayat tentang turunnya ayat terakhir surah al-Muzzammil di periode Madinah, maka sarjana Barat seperti Sinai memberikan kita tambahan argumen kenapa ayat terakhir ini distingtif secara literer & konten sehingga masuk ke dalam kategori ayat Madaniyyah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar