Selasa, 20 Februari 2024

Studi Manuskrip dan Transmisi Tertulis Mushaf al-Qur’an

Hingga awal tahun 2000an, manuskrip al-Qur’an kuno dianggap tidak mencukupi dijadikan sumber untuk menjelaskan sejarah teks Kitab Suci umat Islam ini. Alasannya, menurut Harald Motzki (2001), disebabkan “early manuscripts of the Qur'an are rare and their dating is controversial” (manuskrip-manuskrip al-Qur’an awal masih langka dan penanggalannya kontroversial).


Namun, situasinya berangsur-angsur berubah. Semakin banyak manuskrip al-Qur’an kuno ditemukan dan didigitalisasi. Salah satu mega proyek digitalisasi tersebut sudah cukup familiar di telinga kita, yaitu Corpus Coranicum (Berlin) yang sampai saat ini sudah mendigitalisasi lebih dari 400 fragmen manuskrip yang berisi lebih dari 12.000 halaman (Corpus Coranicum).
Kemajuan teknologi dan digitalisasi pun membuka peluang-peluang baru dalam dunia riset. Marijn van Putten (Leiden), misalnya, dengan memanfaatkan database Corpus Coranicum, berusaha meneliti transmisi mushaf al-Qur’an pada periode awal. Penemuannya menunjukkan bahwa al-Qur’an ditransmisikan secara tertulis dengan amat teliti (precise written transmission). Bagaimana ia sampai pada kesimpulan ini? Dalam tulisan ini, saya coba mengulasnya.
Frase “ni’mat aḷḷāh” dalam al-Qur’an ditulis dengan ta’ biasa (نعمت الله) dan taʾ marbūṭah (نعمة الله). Putten membandingkan bagaimana frase ini ditulis dalam 14 manuskrip awal (diperkirakan berasal dari paruh kedua abad tujuh masehi dan seterusnya) dan menemukan bahwa frase ini ditulis secara konsisten. Misalnya, semua manuskrip yang ia teliti menuliskan نعمة الله dalam al-Baqarah ayat 211 dan نعمت الله dalam al-Baqarah ayat 231, dan begitu juga pada ayat-ayat lainnya. Lihat table 1.

Selain meneliti frase ni’mat aḷḷāh, ia juga mengkaji frase رحمة/رحمت الله, لعنة/لعنت الله, dan lain-lain, dan menemukan tingkat keakurasian yang begitu tinggi dalam manuskrip-manuskrip kuno tersebut. Dua kesimpulan yang Putten berikan dari penelitiannya ini:
Pertama, konsistensi pada manuskrip-manuskrip tersebut tidak mungkin terjadi secara kebetulan (this great consistency cannot be attributable to chance). Pastilah ada satu “Teks Induk” yang menjadi acuan di mana para penyalin menjadikannya sebagai sumber penulisan (there must have been a single written archetype from which all Quranic manuscripts of the Uthmanic text type are descended). “Teks Induk” ini nampaknya tidak mungkin muncul pada era belakangan melebihi masa kepemerintahan Utsman (it is unlikely that the archetype of the “Uthmanic” text type postdates the canonical date assigned to it in the tradition – during ʿUthmān’s reign (24–34 AH). Bukti-bukti material yang ditemukan Putten sesuai dengan narasi tradisional (the data is absolutely consistent with the traditional account).
Kedua, penulisan al-Qur’an tidak terjadi melalui pendiktean secara lisan (it would be impossible to reproduce through a process of writing down from dictation). Jika didikte secara lisan, para penulis tentu akan bingung ketika mendengar frase “ni’mat aḷḷāh” yang bisa ditulis dengan ta’ biasa atau taʾ marbūṭah. Dengan demikian, al-Qur'an tidak ditransmisikan secara hafalan saja, melainkan juga secara tertulis dengan amat teliti.
Persoalan yang belum terpecahkan
Meski penulisan نعمة/ نعمت الله menunjukkan tingkat akurasi yang begitu tinggi, namun terjadi variasi yang lebih longgar (a fairly free variation) dalam penulisan “alif/ā (ا)”. Kosakata ‘ibād, misalnya, ditulis secara berbeda oleh para penulis manuskrip al-Qur’an kuno. Ada yang menulisnya dengan alif (عباده), ada yang tanpa alif (عبده). Lihat table 2.



Werner Diem (1976) mencoba menawarkan hipotesa. Menurutnya, penambahan alif adalah inovasi dan “upgrading” dalam ortografi bahasa tulisan Arab/Hijazi karena bahasa Aramaik Nabatean – yang dianggap sebagai pendahulu bahasa Arab – tidak mengenal alif.
Namun, Putten tidak menerima begitu saja hipotesa ini yang menurutnya bisa memunculkan asumsi bahwa kosakata tanpa alif berusia lebih tua daripada yang dengan alif. Padahal, manuskrip-manuskrip tua juga memuat beberapa kosakata yang ditulis dengan alif. Putten berpandangan bahwa penulisan dengan atau tanpa alif adalah hasil 'kebijaksanaan' penulis (the addition and the removal of word-internal ʾalifs appears to have been dependent on the scribe’s own discretion).
Terakhir, Putten mengakui bahwa persoalan seperti ini tidak bisa dipecahkan dengan studi manuskrip semata, melainkan perlu kajian komparatif. Dengan demikian, peluang-peluang riset multidisipliner masih terbuka lebar.
Ditulis di Indramayu, 10 Des 2022, sambil menikmati martabak manis di malam Minggu!
Artikel yang diulas ““The Grace of God” as evidence for a written Uthmanic archetype: the importance of shared orthographic idiosyncrasies,” Bulletin of SOAS, 82, 2 (2019), 271–288.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar