Selasa, 20 Februari 2024

Kampus Islam dan Bahasa Inggris

Dalam status facebook terbarunya, mas Zacky Umam bercerita akan temannya yang belum berhasil untuk kuliah Ph.D. di luar negeri. Salah satu problem utamanya adalah kurangnya persiapan akademik, khususnya kemampuan menulis riset dalam Bahasa Inggris. Suka atau tidak, B. Inggris kini sudah menjelma menjadi bahasa komunikasi keilmuan internasional.

Bagaimana pengembangan B. Inggris di UIN [Jogja]?



Saya termasuk segelintir mahasiswa S1 di UIN Sunan Kalijaga yang pada semester pertama beruntung diajar Bu Inayah Rohmaniyah (kini Dekan Fakultas Ushuluddin). Dalam mata kuliah “Pengantar Studi Islam”, Bu Inayah – selain menekankan kepada kami perbedaan antara Studi Islam dan Dakwah Islamiyah – juga mewajibkan kami presentasi dan diskusi berbahasa Inggris, meskipun kami masih terbata-bata.
Menjelang lulus S1, Prof. Yudian yang saat itu menjabat sebagai rektor menginisiasi program beasiswa pelatihan TOEFL. Sekitar 50an mahasiswa S1 ikut program ini selama dua bulan sampai khatam buku TOEFL Longman. Sertifikat tes TOEFL dari program inilah yang kemudian saya pakai untuk daftar beasiswa LPDP. Sayangnya, program ini hanya berjalan dua gelombang.
Cara mengajar Bu Inayah dan gebrakan Prof. Yudian ini sangat bagus diikuti oleh dosen dan pemegang otoritas dari kampus mana pun.
***
Selanjutnya mas Zacky mengisahkan pengalamannya 10 tahun lalu ketika ia menyaksikan bagaimana mahasiswa Turki lulusan S1 dan S2 dari kampus dalam negerinya sendiri mampu melanjutkan Ph.D. di kampus bergengsi di benua Amerika dan Eropa. “Karena program master di Turki lumayan banyak sudah menggunakan Bahasa Inggris sehingga bisa menjadi jembatan,” tegas mas Zacky. Tidak hanya di Turki, di beberapa negara Arab pun sudah lama dibuka kampus berbahasa Inggris, seperti American University of Beirut dan Hamad bin Khalifa University (Qatar).
Mas Zacky melanjutkan, “maka program S2 berbahasa Inggris seperti di UGM (mungkin lebih spesifiknya di CRCS untuk studi agama) dan kini UIII sudah bagus banget, mereka bisa mudah diterima Ph.D. bergengsi di luar negeri. Tentu tidak otomatis, tapi semoga menular untuk bangun dan pemerataan sekolah pascasarjana di dalam negeri.”
“Pemerataan” adalah kata kuncinya, terlebih hari ini sudah banyak IAIN yang bertransformasi menjadi UIN. “Pemerataan” ini bisa optimal jika UIN juga membuka program S2 berbahasa Inggris sehingga jebolannya bisa lebih siap tuk lanjut Ph.D. di luar. Tentu, ini butuh waktu yang tidak singkat.
Salah satu langkah praktis yang bisa diambil saat ini adalah mendorong, mewadahi, dan memberikan bimbingan secara kelembagaan kepada mahasiswa S1 untuk berani, berkomitmen, dan siap untuk melanjutkan studinya ke luar negeri. Semakin banyak, semakin baik. Apalagi sekarang sudah ada beasiswa LPDP. Kenapa harus ke luar negeri? ketika mereka telah selesai studi, kampus UIN akan punya SDM yang lebih banyak untuk bersama-sama membangun program S2 dan S3 berbahasa Inggris. Gerakan “internasionalisasi UIN” akan lebih maksimal.
***
Note: dengan penekanan pentingnya B. Inggris, bukan berarti meninggalkan B. Arab yang seharusnya juga menjadi ruh kampus keislaman. Sorogan atau baca kitab adalah tradisi bagus yang nampaknya mulai pudar di sebagian PTKIN. Di semester 2 kuliah S1 dulu, di kelas Studi Hadis, (alm) Prof. Suryadi mendesain kelas sorogan kitab Ushul Hadits karya M. Ajaj al-Khatib. Selama kuliah dua semester di Univ Toronto pun, kita para mahasiswa juga sorogan teks Arab. Semester pertama baca muqaddimah tafsir al-Bahr al-Muhit karya Abu Hayyan, dan semester dua baca bagian-bagian tertentu dari karya-karyanya al-Jahiz dari Kitab al-Hayawan, al-Bayan wa al-Tabyin, hingga Risalah al-Qiyan. Minimal UIN bisa mengembangkan skill dua bahasa ini bagi mahasiswanya, di samping juga kemampuan berpikir kritis, menulis dan meriset.
Tulisan ini hanyalah harapan hamba sebagai salah satu alumni UIN yang mendambakan kampusnya terus menjadi lebih baik ke depannya, aamiin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar