Selasa, 20 Februari 2024

Mengunjungi Institute of Islamic Studies, McGill University, Kanada

Rabu, 25 Mei 2022, ditemani Gus Muhammad Izzul Haq , Ning Ulfah Faiqotul Himmah , dan mas Fathan, saya bersama dek Ima El-ma'wa mengelilingi kampus McGill, dan terlebih khusus ke dalam Institute of Islamic Studies dan perpustakaannya.


Nama besar McGill sudah begitu populer di tanah air. Generasi awal sarjana Muslim yang mewarnai dan membuat gaduh diskursus keislaman pasca kemerdekaan sebagiannya adalah jebolan atau memiliki afiliasi dengan McGill.
Mantan Menteri Agama dan "Bapak Studi Perbandingan Agama", pak Mukti Ali adalah orang Indonesia pertama yang lulus dari McGill. Ia menyelesaikan studi S2nya di sana pada tahun 1957. Sebelas tahun kemudian, mantan rektor IAIN Jakarta, pak Harun Nasution menjadi orang Indonesia pertama yang menyelesaikan studi doktoralnya di Institute ini. Pak M. Rasyidi, mantan Menteri Agama yang kerap mengkritisi pemikiran pak Harun Nasution dan Cak Nur - salah satu 'pendekar' lulusan Chicago, pernah mendapat kontrak mengajar di McGill selama 5 tahun sejak 1958.
Karena alumni McGill mampu mengisi pos-pos strategis baik di pemerintahan maupun di akademia, konon dikenal apa yang disebut "Mafia McGill".
Sosok paling penting di balik Institute of Islamic Studies, McGill University, tentu adalah sang pendiri, yaitu Prof. Wilfred Cantwell Smith. Ia merekrut sarjana-sarjana beken di zamannya untuk mengajar di McGill, seperti Fazlur Rahman dan Toshihiko Izutsu. McGill pun segera menjadi magnet yang menarik banyak perhatian.
Megan Abbas mencatat bahwa hingga awal abad 21, kurang lebih 200 mahasiswa Indonesia menyelesaikan studinya baik jenjang master atau doktor di McGill dan 1.400 dosen/staff IAIN se-Indonesia pernah mengikuti program pelatihan di kampus yang terletak di Montreal ini.


Barangkali karena reputasi hegemonik McGill tersebut, studiku di Toronto kerap dianggap "menyalahi" pakem arus utama. Lanjut studi di Kanada ya? Kok gak di McGill?
Tenang pemirsah.
Prof. Smith yang mendirikan dan membesarkan nama Institute of Islamic Studies, McGill University, itu dulunya adalah lulusan University of Toronto, haha 😄
Bacaan: buku Whose Islam? The Western University and Modern Islamic Thought in Indonesia karya Megan Brankley Abbas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar