Setelah dua kali menulis status facebook tentang kesarjanaan Barat, sebenarnya saya sudah tidak ingin lagi meneruskannya. Tapi karena kita diajarkan untuk bersikap tawazun (berimbang), izinkan saya menuliskan beberapa kritikan yang pernah dilontarkan para sarjana terhadap model kesarjanaan Barat. Penting dicatat, kesarjanaan Barat tidaklah tunggal atau satu suara, ia begitu beragam, layaknya tradisi keilmuan lainnya.
Di semester pertama di University of Toronto, kami mahasiswa baru diwajibkan mengambil kelas “MA Method and Theory”. Tidak hanya diajari metodologi penelitian, kami diajak berpikir kritis. Apa yang pertama kali kami kritisi? Tak lain dan tak bukan adalah kesarjanaan Barat itu sendiri! Tidak semua lembaga pendidikan memulai dengan kritik diri, seringkali kritik dilayangkan kepada kelompok yang berbeda. Tapi di sini kesarjanaan dimulai dengan autokritik. Barangkali sikap autokritik ini yang membawa kesarjanaan di Barat maju.
Kita mulai dari hal yang mendasar, yaitu definisi agama. Talal Asad, sang antropolog terkenal itu, mengatakan, “there cannot be a universal definition of religion” (tidak ada definisi agama yang universal) mengingat fakta bahwa fenomena keagamaan adalah fenomena di banyak lokasi yang sangat spesifik dan terkait erat dengan konteks kelokalannya. Jonathan Z. Smith menimpali bahwa seringkali definisi agama merefleksikan power yang dominan pada zamannya. Misalnya, pada era sebelum Enlightment, ‘ritual’ adalah salah satu poin penting dalam definisi agama (merefleksikan kekuatan dominan saat itu di Barat, yaitu Katolik), sedangkan pasca Reformasi, agama lebih dikaitkan dengan “reverence” (penghormatan), “service” (pelayanan), “adore” (pemujaan) dan “piety” (kesalehan) yang merupakan nilai-nilai sentral dalam Protestan.
Karena gagalnya suatu definisi agama dalam menjelaskan fenomena keagamaan secara holistik serta merefleksikan kekuatan dominan pada saat definisi itu muncul, para peneliti agama sangat berhati-hati ketika berbicara definisi agama, bahkan sering mengkritik definisi yang ditawarkan oleh sesama rekan mereka, misalnya kritik yang dilancarkan oleh Talal Asad kepada maha gurunya antropologi agama, Clifford Geertz. Yang tertarik soal ini, bisa melihat video mas Azis Anwar Fachruddin, mahasiswa S3 di Arizona State University (disingkat kok jadi ASU, haha, sorry mas Azis), di youtube PCINU Amerika Serikat-Kanada yang tayang sekitar 3 bulan lalu.
Masih di kelas yang sama, saya bertugas mempresentasikan buku Provincializing Europe: Postcolonial Thought and Historical Difference karya Dipesh Chakrabarty, dosen di Chicago, yang salah satu poinnya mengkritik konsep ‘peasant’ (petani) dalam imaginasi orang Eropa yang digunakan dalam memahami konteks negara-negara di luar Eropa. Petani bagi orang Eropa, lanjut Chakrabarty, dipandang sebagai orang yang ‘apolitical’ (tidak berpolitik), sehingga konsep ala Eropa ini tidak cocok digunakan untuk menjelaskan pemberontakan para petani di India, negara asal Chakrabarty.
Itu baru di satu kelas. Saya kasih satu contoh lagi di kelas Qur’anic Studies yang diampu oleh Prof. Suleyman Dost. Beliau Muslim dari Turki. Jangan kira belajar di Barat semua dosennya adalah non-Muslim, hehe. Dosen yang sering saya sebut di status facebook sebelumnya, Prof. Walid Saleh, juga Muslim asal Lebanon. Tapi pengkotakan berdasarkan agama seperti itu tidaklah relevan bagi dunia penelitian karena para peneliti, apapun backgroundnya, saling bekerja sama dalam riset-riset mereka.
Kembali ke laptop. Di kelas Qur’anic Studies itu, kita membaca bagaimana, misalnya, Angelika Neuwirth, gurunya Prof. Sahiron di Jerman, mengkritik buku Christoph Luxenberg berjudul The Syro-Aramaic Reading of the Koran dengan menyebut bahwa terdapat reduksionisme dan spirit tendensius dalam buku itu. Neuwirth melanjutkan bahwa buku Luxenberg itu “belongs rather to polemically motivated speculation than to serious scholarship.” Selain Neuwirth, sarjana jebolan kampus Barat yang juga kerap mengkritik kesarjanaan studi Qur’an di Barat adalah Joseph Lumbard dan Sajjad Rizvi, yang artikel keduanya telah dikupas tuntas oleh mas Asep Nahrul Musaddad, dosen muda UIN Sunan Kalijaga, pada pertemuan AIAT (Asosiasi Ilmu Alqur’an dan Tafsir se-Indonesia) 16 April yang lalu. Silakan cek videonya di youtube AIAT. Artikel Lumbard sudah saya ulas juga di web studitafsir.com.
Apa yang bisa kita pelajari dari sini? Kesarjanaan Barat tidaklah tunggal, bahkan mereka sering berdebat satu sama lain. Tapi yang harus dicatat adalah mereka mendebat sarjana yang berada dalam bidang studi yang sama. Antroplog mendebat antropolog, sarjana studi Qur’an mengkritik sarjana studi Qur’an lainnya. Mereka paham betul bidang studinya dan karenanya punya otoritas mengkritik sarjana dari sesama bidang studi.
Bagaimana budaya kritik di masyarakat kita?
Hmmm, bicara ini ada senang, ada sedihnya. Senangnya adalah para akademisi di kampus-kampus Islam bukanlah orang-orang yang ‘membeok’ dan ‘bertaklid buta’ pada pemikiran sarjana Barat atau sarjana dari tempat lainnya. Beberapa hari lalu tersebar di facebook poster pak Harun Nasution dan dibumbuhi caption “makmum tidak jauh berbeda dari imamnya.” Memangnya semua pandangan pak Harun yang dulu mereformasi UIN diamini begitu saja oleh mahasiswa/dosen UIN? UIN bukanlah lembaga indoktrinisasi mas e. Kritikan mas Fadhli Lukman, dosen muda UIN Sunan Kalijaga, terhadap beberapa poin penelitian Prof. Mun’im yang dimuat dalam web studitafsir.com adalah salah satu contoh sikap kritis itu.
Selain para akademisi UIN yang bersikap kritis terhadap kesarjanaan Barat, ada pula gerakan yang dimotori oleh INSIST dan PKU Gontor, para muridnya Naquib al-Attas, yang kerap membawa slogan “Islamisasi ilmu pengetahuan.” Meskipun gaya dan orientasi akademisi UIN dan INSIST ini berbeda, dan terkadang juga saling berdialektika, tetapi ada satu kesamaan di antara mereka: yaitu mereka mempelajari secara serius buku-buku dan jurnal-jurnal yang ditulis sarjana Barat sebelum melayangkan kritik.
Bagian sedihnya adalah muncul di generasi kita sebagian kawan-kawan yang tidak membaca dan mempelajari secara serius karya kesarjanaan Barat, lalu cepat sekali berkesimpulan dan membuat klaim besar bahwa kesarjanaan Barat tidak bermetodologi sama sekali atau di dalamnya hanya mengandung syubhat. Kita tidak mencontoh betapa gagah dan heroiknya perdebataan intelektual antara M. Rasjidi, Harun Nasution, dan Nurcholis Madjid (ketiganya pernah mengenyam studi di Barat) pada abad 20 yang lalu. Mungkin tendensi seperti kawan-kawan kita ini juga muncul dahulu, tapi sekarang lebih terlihat di permukaan karena difasilitasi oleh berbagai akun media sosial. Ternyata yang membagikan juga banyak, waduh!
Model kesarjanaan Barat tidaklah sempurna (yang sempurna hanya Gusti Allah), banyak hal yang bisa dikritisi dalam literatur Barat. Tetapi, kritiklah dengan gaya yang keren, style yang cool. Tirulah gus Ulil Abshar Abdalla yang kerap mengkritisi sikap elitisme intelektual lulusan Barat setelah ia sendiri merasakan studi di Boston University atau Farid al-Attas (dosen di National University of Singapore) yang mengkritik model sosiologi Barat dan mengembangkan sosiologi yang sesuai dengan pengalaman bangsa-bangsa Asia setelah ia memahami sosiologi Barat di John Hopkins University.
Terakhir, saya mengingatkan kepada diri hamba sendiri dan jamaah sekalian (wah sudah mirip khotib Jum’at nih, padahal saya bukan ustadz, hanya calon peneliti saja, hee, tapi pesan ini serius!)
Sebelum bicara, dengarlah dulu
Sebelum menulis, bacalah dulu
Sebelum mengkritik, pahami dulu
Kalau belum bisa, lebih baik diam

Tidak ada komentar:
Posting Komentar